EXPLORASI GUNUNG TANGKELEMBOKE, LATOMA
OSU NANDO’OTO PEGUNUNGAN TANGKELEMBOKE, PERJALANAN PANJANG EKSPEDISI DAN EKSPLORASI MAHACALA
Ketertarikan Mahacala terhadap Osu Nando’oto puncak tertinggi pegunungan Tangkelemboke telah muncul saat survey jalur rintisan Gunung Mekongga pada akhir tahun 1993.
Pak Ali tetua wilayah Lasusua dan mantan pasukan Kahar Muzakkar yang juga menjadi nara sumber jalur rintisan Mekongga menerangkan bahwa di tengah daratan Sulawesi Tenggara ada gunung dengan puncak tunggal yang paling tinggi.
Menurutnya gunung di tengah daratan Sulawesi puncak itu yang tertinggi dibandingkan dengan gunung-gunung lain yang dia jelajahi selama bergerilya di rimba Sulawesi. Puncaknya berupa bebatuan tinggi menjulang menembus awan.
Pak Djalali (90 tahun) tetua desa Nesowi menyebutkan bahwa umumnya masyarakat Tolaki di sekitar Latoma menamakan gunung dan pegunungan di wilayah hulu sungai Latoma tersebut dengan nama Osu Nando’oto.
Osu Nando’oto berasal dari Bahasa suku Tolaki yaitu Osu berarti gunung dan Nando’oto yaitu “manu rasa wulaa” yang berarti ayam emas. Cerita rakyat tentang ayam emas Nando’oto di puncak gunung ini sudah menjadi cerita yang sering dituturkan oleh para tetua kepada keturunan dan masyarakat Tolaki wilayah Latoma dan Konawe.
Pasca ekspedisi rintisan Mekongga tahun 1995 ada upaya Mahacala untuk melakukan kegiatan rintisan ke Tangkelemboke namun belum terealisir karena kesibukan merencanakan dan membuat kegiatan Temu Wicara dan Kenal Medan (TWKM) tahun 1996 yang dilaksanakan oleh Mahacala Universitas Haluoleo Kendari.
Tahun 2006 beberapa senior anggota Mahacala mengingatkan Tangkelemboke untuk ditapaki lagi, namun belum mendapat respon dari pengurus dan anggota lain.
Tahun 2013 agenda mendaki Osu Nandooto masuk dalam agenda DP saat itu (Ketua MH : Wira Rahardi) dgn nama kegiatan Ekspedisi Halu Oleo II, akan tetapi tahapan yg terlaksana hanya sampai pada tahap Survey Awal (September, 2013) karena beberapa kendala. Pada saat pelaksanaan survey awal, tim sampai dan menginap semalam pada percabangan sungai Latoma dengan salah satu anak sungai (Nama lokasi : Anggalo’oha). Lokasi ini menjadi titik awal pendakian Ekspedisi Gunung Hutan Angkatan 19 & 20.
Pada tahun 2014 dimulailah membuat ekspedisi rintisan jalur Tangkelemboke dengan target puncak Nando’oto yang dilakukan oleh anggota muda Mahacala angkatan 19 dan 20 dengan nama Ekspedisi Jalur Hijau. Bermaterikan para penjelajah muda Mahacala yaitu:Tina Marwah Tamburaka, Wahyu Harsono, Nur Fajri, Achrul Fandi, Rifal Sarta, Abdul Wahab, La Ode Ramadhan Pangara, La Ode Abdul Yfendi, Rahmun, Hendar Juliana, Mitrazan Taratumpu, Niko Piligame, Muh Anwar Sadad, Marnida, didampingi konsultan manajemen : Muhammad Darmawan, Konsultan Operasi: La Ode Muh. Said dan Arman, pendamping : Yodi Fuadi.
Pada ekspedisi selama 14 hari berangkat dari Nesowi tersebut jalur ekspedisi yang dilalui yaitu sisi bagian Barat pegunungan Tangkelemboke. Target puncak Nando’oto dari ekspedisi Tangkelemboke 2014 tersebut belum tercapai karena keterbatasan logistic saat berhadapan dengan tebing menjulang di bawah puncak Osu Nando’oto.
Bertahun-tahun wilayah pegunungan Tangkelemboke dengan Osu Nando’oto masih menjadi misteri. Puncaknya yang dibentengi dinding batuan terjal menjulang menembus awan menjadi daya tarik tersendiri bagi para penjelajah rimba dan peneliti keragamanhayati khususnya di organisasi pecinta alam Mahacala UHO.
Pasca rintisan tahun 2014 yang belum mencapai puncak jalur dinding sebelah Barat Osu Nando’oto maka Mahacala mencoba untuk mencari jalur lain yang menjadi alternatif pintu masuk ke Osu Nando’oto.
Setelah 9 tahun berlalu, di awal tahun 2023 beberapa anggota Mahacala dan Teras yaitu Ime, Aris, Jamil, dkk yang tergabung di tim ekspedisi Nature Evolution Perancis melakukan perjalanan ekspedisi melewati hulu sungai Latoma Kabupaten Konawe melewati punggungan Tangkelemboke menuju hulu sungai Lasolo Kabupaten Konawe Utara.
Dari evaluasi ekspedisi tersebut nampaknya punggungan Tangkelemboke yang dilintasi tim ekspedisi menjadi referensi sebagai titik awal pendakian menuju Osu Nando’oto dan eksplorasi keragamanhayati wilayah kawasan Pegunungan Tangkelemboke yang sama sekali belum pernah dilakukan riset oleh peneliti-peneliti sebelumnya.
Berdasar pengetahuan awal tahun 1993 terkait gunung tinggi dan pegunungan yang berada di tengah daratan Sulawesi Tenggara dan sejarah masyarakat suku Tolaki yang mendiami kawasan hulu sungai Latoma, sungai Konaweeha dan sungai Lasolo, serta belum pernah dilakukan eksplorasi keragamanhayati wilayah pegunungan Tangkelemboke dan kawasan puncak Osu Nando’oto (2421 mdpl) maka dianggap sangat penting untuk melakukan ekspedisi dan eksplorasi sumberdaya alam dan keragamanhayati untuk mengungkap sebagian aspek hayati dan non hayati sumberdaya alam yang terkandung di pegunungan ini.
Pegunungan Tangkelemboke yang berada di jantung daratan Sulawesi Tenggara, berdiri memanjang dari bagian Barat hingga ke Timur dan Utara. Masuk di wilayah administratif Kabupaten Konawe dan Konawe Utara serta Kolaka Timur.
Berelevasi hingga 2400an mdpl, kawasan pegunungan Tangkelemboke memiliki padang sabana Lawali yang dihuni anoa, rusa, kerbau dan sapi liar serta mamalia lain. Hutan hujan tropis alamiah dengan berbagai jenis tumbuhan tingkat tinggi, serta di ketinggian 2000an mdpl terdapat zona kehidupan sub alpin dan alpin.
Pegunungan Tangkelemboke dengan puncak Nando’oto ini menjadi kawasan kunci berbagai jenis flora fauna endemik dan jantung kehidupan air bersih yang mengaliri sungai-sungai besar di daratan Sulawesi Tenggara seperti Sungai Latoma, Sungai Ambekaeri, Sungai Konaweeha dan Sungai Lasolo.
Jutaan meter kubik aliran air sungai tersebut setiap tahunnya mengairi kawasan pertanian dan pasokan air bersih bagi Kabupaten Konawe, Kolaka Timur, Kabupaten Konawe Utara dan Kota Kendari serta memasok beragam biota sungai hingga ke muara sungai yang lepas ke kawasan Laut Banda.
Osu Nando’ota dan Pegunungan Tangkelemboke adalah kawasan biodiversity kunci penting untuk dikonservasi karena merupakan “water bank” dan gunung air yang menjadi jantung kehidupan daratan Sulawesi Tenggara serta wilayah kunci keragamanhayati kawasan Wallacea termasuk kawasan daerah aliran sungainya (DAS) dan wilayah pertanian di aliran DASnya merupakan lumbung pangan Nasional.
Kegiatan Ekspedisi dan Eksplorasi Tangkelemboke 2023 ini direncanakan berlangsung mulai 21 Agustus hingga 3 September 2023. Tim Ekspedisi dan Eksplorasi Tangkelemboke Mahacala UHO 2023 merupakan kolaborasi dari angkatan ke 1 Anoa Soropia hingga angkatan ke 24 Mahacala UHO berjumlah 10 (sepuluh) orang, yaitu: Muhammad Sahir (ML 24269 Kabut Lembah); Alfip (MH 24275 Kabut Lembah); Asrami Jamil (ML 21236 Karst Tenggara); La Ode Ramadhan Pangara (ML 20222 Calamus Peropa); Yodi Fuadi (ML 18207 Tirta Gempa); Muhammad Ridwan (ML 15190 Bivoack Rawa); La Ode Muhammad Said (ML 7120 Cascade Sulawesi); M.Aris Rouf (ML 3073 Gagak Rawa); Imran Tumora/Ime (ML 1016 Anoa Soropia); Ma’ruf Asr. Ruddy Ibrahim (ML 1002 Anoa Soropia).
Eksplorasi flora dan fauna pegunungan Tangkelemboke dilaksanakan mulai 22 Agustus hingga 31 Agustus 2023 dan kegiatan riset sosial ekonomi lingkungan serta bakti sosial direncanakan tgl 1 dan 2 September 2023 di Desa Nesowi, Kecamatan Latoma, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara. (Rudi Ibrahim)


Komentar
Posting Komentar